Medinas.id – BUMDes Wangi Mandiri Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, hingga kini belum merealisasikan program pelatihan peternakan yang telah dianggarkan pada tahun 2025. Meski demikian, sebagian anggaran kegiatan tersebut diakui sempat dialihkan untuk mendukung pembangunan sektor wisata.
Hal itu disampaikan Direktur BUMDes Wangi Mandiri, Endang Wahyu, saat ditemui wartawan di salah satu objek wisata yang dikelola BUMDes, Jumat (08/05/2026).
Menurutnya, BUMDes saat ini tengah fokus menjalankan dua program utama, yakni pengembangan wisata dan ketahanan pangan. Pada pencairan Dana Desa tahap pertama, pihaknya mengaku telah membuka lahan pertanian dan melakukan penanaman pohon pepaya sebagai bagian dari program tersebut.
Namun, karena pengembangan dua sektor dilakukan secara bersamaan, anggaran pelatihan peternakan sebesar Rp50 juta disebut sempat dialihkan sekitar 50 persen untuk mempercepat pembangunan wisata.
“Sudah ada kesepakatan di internal pengurus BUMDes. Pelatihan rencananya akan dilaksanakan Juli mendatang. Karena saat ini kami fokus menyelesaikan pembangunan kolam renang agar segera menghasilkan pemasukan yang nantinya bisa digunakan untuk tambahan biaya pelatihan,” ujar Endang.
Ia menambahkan, apabila pelatihan lebih dulu dilaksanakan, pembangunan kolam renang dikhawatirkan tidak dapat dilanjutkan.
“Kalau pelatihan dilaksanakan dulu, kami tidak bisa membangun kolam,” katanya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan pelanggaran aturan akibat pengalihan anggaran tersebut, pihak BUMDes menilai program secara umum masih berjalan sehingga tidak menjadi persoalan.
“Pelaporan masih berjalan, pertanian juga sudah siap panen. Bahkan pihak kecamatan sudah melakukan monitoring dan evaluasi. Yang penting programnya tetap dilaksanakan,” dalihnya.
Sementara itu, Kaur Perencanaan Desa Linggawangi, Fadil, membenarkan bahwa program pelatihan peternakan memang merupakan bagian dari kegiatan yang dikelola BUMDes.
Ia menyebut total anggaran untuk sektor pertanian dan peternakan mencapai lebih dari Rp200 juta, termasuk anggaran pelatihan peternakan sekitar Rp40 juta.
“Memang program pelatihan peternakan sampai sekarang belum dilaksanakan. Saya juga sudah mengonfirmasi ke pihak BUMDes dan katanya tetap akan dilaksanakan,” ujarnya saat ditemui di kantor desa.
Fadil mengakui program tersebut sebenarnya ditujukan bagi masyarakat di setiap dusun dan kini telah melewati tahun anggaran. Menurutnya, keterlambatan terjadi karena pihak BUMDes masih memprioritaskan pengembangan pertanian, termasuk penanaman pohon pepaya.
“Dana Desa tahap kedua turun sekitar September. Alasan dari pihak BUMDes karena mereka masih fokus ke pertanian,” tandasnya. (***)









