Medinas.id – Dinas Tenaga Kerja Kota Tasikmalaya bekerja sama dengan Akademi Pariwisata dan LSF Indonesia Chef mengadakan sertifikasi kompetensi bagi relawan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), khususnya pada bidang memasak.
Kegiatan tersebut diikuti 29 peserta asal Tasikmalaya dan wilayah sekitarnya yang merupakan relawan dapur serta pekerja program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sertifikasi ini bertujuan memastikan para peserta memiliki keterampilan teknis sekaligus standar profesional dalam bidang tata boga.
Asesor LSF Indonesia Chef, Chef Made, menjelaskan bahwa sertifikasi kompetensi penting dimiliki para relawan dapur sebagai bentuk pengakuan atas kemampuan kerja mereka di bidang kuliner.
“LSF Indonesia Chef memiliki lisensi untuk menyelenggarakan sertifikasi profesi pada bidang cook atau memasak. Peserta kali ini berasal dari pekerja MBG dan relawan dapur SPPG di Tasikmalaya dan sekitarnya,” ujar Chef Made.
Dalam uji kompetensi tersebut, peserta diminta menyusun dan mengolah menu sesuai standar gizi yang diterapkan dalam program MBG. Menu yang dibuat harus memenuhi unsur karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran, hingga buah-buahan.
“Peserta mendapat tantangan membuat menu besar maupun kecil sesuai standar yang telah ditentukan. Dari situ kami menilai kemampuan mereka bekerja secara profesional dalam batas waktu tertentu,” katanya.
Walaupun bahan utama telah disediakan panitia, peserta tetap diberikan kebebasan untuk berinovasi dalam proses pengolahan makanan.
Chef Made menuturkan, total waktu yang diberikan dalam uji kompetensi mencapai satu setengah jam, terdiri dari 15 menit persiapan, satu jam proses memasak, dan 15 menit terakhir untuk membersihkan area dapur.
“Seorang chef tidak hanya dituntut mahir memasak, tetapi juga harus menjaga dapur tetap bersih, sehat, dan higienis setelah digunakan,” tegasnya.
Selain praktik memasak, peserta juga mengikuti sesi wawancara untuk menilai pola pikir, etika kerja, serta kemampuan komunikasi di lingkungan kerja. Aspek tersebut menjadi bagian penting dalam proses penilaian kompetensi.
“Kami ingin mengetahui cara berpikir peserta dan bagaimana mereka berkomunikasi dengan rekan kerja, sehingga benar-benar layak memperoleh predikat cook profesional,” jelasnya.
Ia menambahkan, tidak semua peserta otomatis dinyatakan lulus dalam sertifikasi tersebut. Namun karena level yang diuji masih kategori pekerja cook, fokus penilaian lebih diarahkan pada keterampilan teknis dasar, disiplin, sikap kerja, dan komunikasi.
“Karena ini level pekerja, bukan kepala dapur atau manajer, maka yang lebih diperhatikan adalah kemampuan dasar memasak, kedisiplinan, serta komunikasi kerja. Peluang lulus memang lebih besar, tetapi peserta tetap harus memenuhi standar kompetensi,” ungkap Chef Made.
Dalam pelaksanaannya, LSF Indonesia Chef menerapkan empat metode penilaian, yaitu tes tertulis, wawancara, praktik memasak, dan pemeriksaan dokumen pendukung sebagai bagian dari proses sertifikasi.
Para peserta pun menyambut positif kegiatan tersebut. Mereka menilai sertifikasi kompetensi menjadi kesempatan penting untuk meningkatkan kemampuan sekaligus memperoleh pengakuan profesional di bidang tata boga. (gal)











