Budaya dan Keagamaan Dipadukan, Padepokan Sanca Galunggung Dorong Pelestarian Budaya di Kota Tasikmalaya
- account_circle Galih Sugih Lugina
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 9
- print Cetak

0-3264x2448-0-0-{}-0-0#
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Medinas.id – Upaya melestarikan kebudayaan daerah terus dilakukan para pegiat seni dan budaya di Kota Tasikmalaya. Salah satunya melalui kegiatan yang memadukan semangat peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan nilai-nilai keagamaan.
Rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya digelar untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, tetapi juga dirangkaikan dengan tabligh akbar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan yang berlangsung di Jalan Pasar Pancasila, Kelurahan Lengkongsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Sabtu (29/08/2026), menjadi ruang bagi para pelaku budaya untuk memperkenalkan sekaligus menegaskan bahwa kebudayaan dan nilai-nilai keagamaan dapat berjalan secara harmonis.
Ketua Padepokan Qulbu Zakir, Sandi Sina, mengatakan perpaduan antara budaya, keagamaan, dan semangat kebangsaan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa ketiga unsur tersebut tidak harus dipertentangkan.
Menurut Sandi, masih terdapat anggapan di sebagian kalangan bahwa aktivitas kebudayaan identik dengan sesuatu yang terpisah dari nilai-nilai agama. Melalui kegiatan tersebut, pihaknya berupaya mengubah paradigma tersebut dengan menghadirkan kegiatan yang menggabungkan unsur budaya, keagamaan, dan kebangsaan.
“Tujuan utamanya adalah memeriahkan kemerdekaan Republik Indonesia. Kemudian pada malam harinya dilanjutkan dengan tabligh akbar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW,” ujar Sandi Sina saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana sosialisasi kepada masyarakat bahwa budaya daerah dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai keagamaan yang telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Sandi menilai kebudayaan memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial dan keagamaan. Karena itu, menurutnya, pandangan yang memisahkan budaya dari agama perlu perlahan diubah.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kebudayaan juga memiliki nuansa keagamaan yang kuat. Paradigma seperti itulah yang ingin kami ubah. Kegiatan budaya dapat diselaraskan dengan kegiatan keagamaan, termasuk dalam momentum kemerdekaan dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW,” katanya.
Lebih lanjut, Sandi berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya dapat memberikan perhatian serta ruang yang lebih luas bagi para pelaku seni dan budaya. Pemerintah, kata dia, dapat berperan sebagai jembatan antara pegiat budaya, masyarakat, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya.
“Kami berharap ke depan Pemerintah Kota Tasikmalaya bisa memfasilitasi sekaligus menjadi jembatan bagi para pegiat budaya. Setiap kegiatan atau momentum yang berkaitan dengan kebudayaan diharapkan bisa melibatkan seluruh masyarakat dan pelaku budaya,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pelestarian kebudayaan tidak dapat hanya dibebankan kepada satu kelompok atau komunitas. Peran generasi saat ini sangat penting untuk memastikan warisan budaya daerah tetap hidup dan tidak tergerus perkembangan zaman.
“Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”tegasnya
Pelaku Budaya Dorong Sinergi.
Sementara itu, Ketua Padepokan Sanca Galunggung, Ki Sanca, menilai keberlangsungan kebudayaan membutuhkan kepedulian dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, tradisi dan warisan budaya harus terus diperkenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda, agar keberadaannya tidak semakin tergerus oleh perubahan zaman.
Ki Sanca mengatakan, para pelaku budaya selama ini terus berupaya menjalankan berbagai kegiatan dengan membangun sinergi bersama sesama pegiat seni, masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, maupun berbagai pihak lainnya.
“Pelaku budaya tidak bisa berjalan sendiri. Sejak dulu kami selalu bersinergi dengan rekan-rekan dan masyarakat. Alhamdulillah, sampai sekarang masih banyak yang peduli dan ikut menggelar kegiatan untuk menjaga kebudayaan,” kata Ki Sanca.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan seni dan budaya, mulai dari masyarakat, media, kepolisian, hingga pemerintah dan dinas terkait.
“Kami sangat berterima kasih kepada media, masyarakat, warga, kepolisian, maupun dinas yang selama ini telah memberikan dukungan terhadap kegiatan-kegiatan seperti ini,” ujarnya.
Ki Sanca berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya semakin memberikan perhatian terhadap keberadaan dan perkembangan kebudayaan daerah. Menurutnya, budaya merupakan bagian dari identitas masyarakat yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Khusus kepada Bapak Wali Kota Tasikmalaya, kami berharap kebudayaan mendapat perhatian lebih. Budaya harus terlihat, harus tetap hidup, dan jangan sampai diabaikan,” katanya.
Ia menambahkan, para pegiat budaya akan terus membangun komunikasi dan membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah. Langkah tersebut dinilai penting untuk menyampaikan aspirasi sekaligus kebutuhan para pelaku seni dan budaya.
Menurut Ki Sanca, sinergi antara pegiat budaya, masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, dan media menjadi kunci agar kebudayaan di Kota Tasikmalaya tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Melalui kolaborasi tersebut, kegiatan seni dan budaya diharapkan tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat nilai kebangsaan, mempererat hubungan sosial dan keagamaan masyarakat, serta menjaga keberlangsungan tradisi dan warisan budaya daerah.
Dengan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, pelestarian budaya di Kota Tasikmalaya diharapkan dapat terus berjalan secara berkelanjutan sekaligus menjadi bagian penting dalam membangun karakter generasi muda di tengah perkembangan zaman, pungkasnya.(***)
- Penulis: Galih Sugih Lugina
- Editor: Galih
