537 Wisudawan BTH Diluluskan, Rekayasa Kosmetik Jadi Prodi Andalan Baru di Tasikmalaya
- account_circle Galih Sugih Lugina
- calendar_month Sabtu, 3 Okt 2026
- visibility 23
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Medinas.id — Sebanyak 537 wisudawan dari berbagai program studi resmi mengikuti prosesi wisuda di BTH Hall Center, Kampus BTH, Jalan Cilolohan, Kota Tasikmalaya, Sabtu (03/10/2026).
Ratusan lulusan tersebut berasal dari sejumlah program studi, dengan jumlah terbanyak dari Program Studi Farmasi yang mencapai sekitar 310 wisudawan. Selain Farmasi, terdapat lulusan dari program studi keperawatan, rekam medis dan informasi kesehatan, refraksi optisi, kewirausahaan, teknologi pangan, bisnis digital, administrasi rumah sakit, teknologi laboratorium, serta program studi lainnya.
Ketua Pembina BTH, Yori Susandi Ruswadi, SH., MH., mengatakan, wisuda kali ini menjadi momentum bersejarah bagi BTH karena untuk pertama kalinya lulusan dari luar bidang kesehatan dan farmasi turut diluluskan setelah BTH berkembang menjadi universitas sejak 2021.
Menurutnya, momentum tersebut semakin istimewa karena pelaksanaan wisuda digelar di gedung baru BTH dan dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, baik dari pemerintah daerah maupun bidang pendidikan tinggi.
”Alhamdulillah, ini menjadi sejarah bagi kami karena sekarang BTH tidak hanya meluluskan mahasiswa dari bidang farmasi dan kesehatan. Sejak berubah menjadi universitas pada 2021, kini kami mulai meluluskan mahasiswa dari bidang teknologi dan bisnis,” ujarnya.
Ia menegaskan, Yayasan BTH sebagai badan penyelenggara memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mendorong kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Kota Tasikmalaya.
Karena itu, BTH diarahkan tidak hanya menjadi kampus dengan pembangunan infrastruktur yang semakin berkembang, tetapi juga menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia dan pendidikan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Salah satu program studi baru yang diproyeksikan menjadi unggulan BTH adalah Rekayasa Kosmetik.
Program studi tersebut dinilai memiliki prospek karena berkaitan dengan kebutuhan industri sekaligus memanfaatkan potensi bahan-bahan alam. Menurut Yori, proses perizinan program studi tersebut dapat berjalan relatif cepat karena didukung sumber daya dosen yang memiliki kompetensi di bidang terkait.
”Ini menjadi salah satu prodi andalan kami karena sesuai dengan kebutuhan. Sumber daya manusia dan dosen yang kami miliki juga mumpuni di bidang tersebut,” katanya.
Ia menyebut, BTH menjadi salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia yang membuka Program Studi Rekayasa Kosmetik. Kehadiran prodi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu keunggulan baru Kota Tasikmalaya dalam bidang pendidikan dan pengembangan industri berbasis bahan alam.
Sementara itu, Wali Kota Tasikmalaya H. Viman Alfarizi Ramadhan, M.BA., mengapresiasi perkembangan BTH yang dinilainya semakin menunjukkan kemajuan, baik dari sisi pembangunan sarana prasarana maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia.
”Di Jawa Barat bahkan di Indonesia, kampus ini sangat baik. Saya bangga karena ada di Kota Tasikmalaya. Pembangunan infrastrukturnya terlihat berkembang dan sangat bermanfaat untuk berbagai kegiatan, termasuk menjadi pemantik ekonomi di Kota Tasikmalaya,” ujar Viman.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur pendidikan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Lulusan perguruan tinggi, kata dia, tidak cukup hanya memiliki kemampuan teoritis, tetapi juga harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Viman juga mendorong agar hasil penelitian dan kajian akademik yang dilakukan BTH dapat dikolaborasikan dengan program Pemerintah Kota Tasikmalaya.
”Penelitian dan kajian yang ada di BTH harus diimplementasikan. Pemerintah membutuhkan pandangan dan kajian dari akademisi agar visi dan misi pembangunan bisa terwujud, termasuk di bidang kesehatan, pendidikan dan pembangunan infrastruktur,” katanya.
Ia menilai bidang kesehatan menjadi salah satu sektor yang dapat diperkuat melalui kolaborasi antara Pemerintah Kota Tasikmalaya dan BTH. Hal itu mencakup upaya penanganan tuberkulosis (TBC), penguatan puskesmas, posyandu, hingga peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan masyarakat.
Dengan berbagai program studi yang dimiliki, mulai dari farmasi, keperawatan hingga bidang kesehatan lainnya, BTH dinilai memiliki sumber daya lulusan yang dapat berkontribusi dalam pembangunan kesehatan di Kota Tasikmalaya.
Selain itu, keberadaan Program Studi Rekayasa Kosmetik juga dinilai dapat menjadi keunggulan baru yang mendukung pengembangan sektor pendidikan sekaligus mengangkat potensi ekonomi daerah.
Viman mengatakan, momentum wisuda tahun ini juga bertepatan dengan rangkaian Hari Jadi ke-25 Kota Tasikmalaya. Karena itu, ia berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi dan dunia usaha dapat semakin diperkuat untuk menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Dalam hal penyerapan lulusan, Pemerintah Kota Tasikmalaya juga mendorong terciptanya hubungan yang lebih kuat antara dunia pendidikan dengan dunia kerja.
Menurut Viman, link and match antara perguruan tinggi dan dunia industri menjadi penting agar lulusan memiliki akses yang lebih luas terhadap lapangan pekerjaan.
”Penyerapan tenaga kerja menjadi salah satu hal utama. Karena itu, job fair dan berbagai kegiatan yang mempertemukan lulusan dengan dunia kerja harus terus didorong,” ujarnya.
Pemerintah Kota Tasikmalaya, lanjutnya, juga menyiapkan sejumlah agenda yang berkaitan dengan ketenagakerjaan melalui kolaborasi dengan perangkat daerah, dunia usaha, serta kementerian terkait.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas peluang kerja bagi lulusan perguruan tinggi sekaligus memastikan keberadaan institusi pendidikan tinggi memberikan kontribusi langsung terhadap pembangunan ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kota Tasikmalaya.(***)
- Penulis: Galih Sugih Lugina
- Editor: Galih
