PMI Kota Tasikmalaya Dorong Donor Darah Sukarela Lewat Edukasi Karakter Golongan Darah
- account_circle Galih Sugih Lugina
- calendar_month Rabu, 16 Sep 2026
- visibility 8
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Medinas.id — Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tasikmalaya menggelar talk show edukasi dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 PMI. Kegiatan tersebut mengangkat tema karakter golongan darah sekaligus edukasi perlindungan konsumen yang bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI).
Ketua PMI Kota Tasikmalaya, Rahmat Kurnia, mengatakan kegiatan yang digelar di Aula Bapelitbangda Kota Tasikmalaya, Rabu (16/09/2026), ditujukan untuk memperkuat pemahaman masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya donor darah sukarela.
“Kegiatan ini pertama kali kami laksanakan dalam bentuk talk show bekerja sama dengan Bank Indonesia. Dari BI ada edukasi mengenai perlindungan konsumen, sementara dari PMI kami memberikan edukasi mengenai golongan darah dan karakter,” kata Rahmat saat ditemui awak media.
Menurutnya, kegiatan tersebut diikuti sekitar 150 peserta yang berasal dari badan, dinas, instansi, kesatuan, organisasi, hingga perusahaan swasta. PMI juga melibatkan para koordinator keluarga donor darah yang selama ini berperan mengoordinasikan donor darah sukarela di masing-masing instansi.
Rahmat menyebut kebutuhan darah di Kota Tasikmalaya mencapai sekitar 2.800 labu per bulan. Pelayanan kebutuhan darah tersebut dilakukan oleh tiga unit transfusi darah (UTD), yakni UTD PMI Kota Tasikmalaya, UTD PMI Kabupaten Tasikmalaya, serta UTD RSUD dr. Soekardjo.
“PMI Kota Tasikmalaya rata-rata mendistribusikan sekitar 1.100 labu darah per bulan atau sekitar 35 sampai 40 labu per hari ke rumah sakit,” ujarnya.
Ia menjelaskan, PMI Kota Tasikmalaya juga berupaya menjaga kualitas dan keamanan darah selama proses distribusi. Salah satunya dengan memastikan suhu darah tetap terjaga menggunakan cool box selama pengiriman dari PMI ke rumah sakit.
Selain memenuhi kebutuhan darah, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mempertahankan keberadaan donor darah sukarela (DDS) yang selama ini rutin mendonorkan darah sekaligus menjaring pendonor baru.
“Kami ingin mengingatkan kembali para donor darah sukarela yang sudah rutin, sekaligus menambah jumlah donor baru,” kata Rahmat.
Sementara itu, materi mengenai karakter golongan darah dikemas sebagai edukasi populer agar mudah dipahami peserta dan dapat menjadi pengetahuan tambahan dalam kehidupan sehari-hari. Rahmat mencontohkan, dalam materi tersebut terdapat pembahasan mengenai karakter yang secara populer dikaitkan dengan golongan darah A, B, AB, dan O.
Ia berharap edukasi tersebut tidak membuat seseorang memandang golongan darah sebagai beban atau batasan dalam kehidupan, melainkan menjadi pengetahuan yang dapat dipahami secara proporsional.
“Golongan darah jangan menjadi beban, tetapi bisa menjadi bagian dari gaya hidup dan pengetahuan seseorang. Yang penting, kita memahami dan mengambil sisi positifnya,” pungkasnya. (***)
- Penulis: Galih Sugih Lugina
- Editor: Galih
