PASI Tasikmalaya Dorong Generasi Muda Kenakan Kebaya dan Batik Lokal
- account_circle Galih Sugih Lugina
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 3
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Medinas.id — TASIKMALAYA, Organisasi Pasundan Istri (PASI) Kota Tasikmalaya terus mendorong penggunaan kebaya sebagai bagian dari pelestarian budaya sekaligus penguatan produk lokal.
Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui kegiatan. Pasanggiri Pinton Anggon Kabaya Sunda Sinjang Batik Tasikmalaya yang digelar di Aula Bale Binangkit Hotel Mandalawangi, Jalan R.E. Martadinata No. 177, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Minggu (20/09/2026).
Ketua PASI Kota Tasikmalaya, Hj. Elin Herlina, M.Pd., mengatakan kebaya saat ini tidak semestinya dipandang sebagai pakaian yang ribet dan membatasi ruang gerak.
Menurutnya, sejak 17 Juli 2023 telah dicanangkan Hari Kebaya. Kota Tasikmalaya juga mendapatkan penghargaan atas dukungannya terhadap kebaya sebagai bagian dari budaya bangsa.
”Kenapa masih menggunakan kebaya? Katanya ribet dan sulit bergerak. Padahal, kebaya bisa digunakan dalam berbagai kesempatan,” kata Elin saat ditemui dalam kegiatan tersebut.
Ia menuturkan, kebaya dapat dikembangkan dalam berbagai model penggunaan, mulai dari pakaian untuk bekerja, kegiatan sehari-hari, menghadiri acara formal, hingga dipadukan dengan sepatu kets untuk aktivitas olahraga.
Dalam kegiatan tersebut, PASI juga menghadirkan kategori kebaya formal yang tetap memperhatikan pakem atau aturan penggunaan kebaya.
Elin mengatakan sasaran peserta tahun ini diperluas untuk menjangkau generasi muda, khususnya kelompok usia 16 hingga 30 tahun. Selain itu, peserta juga dibagi dalam sejumlah kategori usia, termasuk 19–30 tahun, 30–55 tahun, serta usia 60 tahun ke atas.
”Kalau ada yang berusia 100 tahun dan masih mampu mengikuti, tetap bisa ikut. Tidak dibatasi sampai usia tertentu,” ujarnya.
Selain melestarikan budaya, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memperkenalkan potensi batik dan kerajinan Kota Tasikmalaya kepada masyarakat.
Menurut Elin, Kota Tasikmalaya memiliki potensi besar dalam pengembangan batik dan sektor kriya. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi peluang untuk mendorong pertumbuhan UMKM, khususnya pelaku usaha kebaya, bordir, dan Batik Tasikmalaya.
”Sejak 2023 hingga sekarang, kami terus melakukan implementasi di Kota Tasikmalaya, salah satunya melalui lomba kebaya Sunda dengan sinjang Batik Tasikmalaya,” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sehingga tidak hanya memperkuat pelestarian budaya, tetapi juga memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat.
”Alhamdulillah, kami melihat para pengusaha batik dan pelaku UMKM merasa bersyukur karena kegiatan ini turut meningkatkan permintaan dan memberikan ruang bagi produk-produk lokal untuk semakin dikenal,” pungkasnya.(***)
- Penulis: Galih Sugih Lugina
- Editor: Galih
