Karang Taruna Kota Tasikmalaya Fokus Tangani Persoalan Sosial dan Sosialisasikan Regulasi Baru
- account_circle Galih Sugih Lugina
- calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
- visibility 27
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Medinas.id — Karang Taruna Kota Tasikmalaya menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran kepemudaan dalam menangani berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat. Sejumlah isu menjadi perhatian, mulai dari HIV/AIDS, pengelolaan sampah, geng motor hingga penyalahgunaan narkoba dan obat-obatan terlarang.
Ketua Karang Taruna Kota Tasikmalaya, Hery Sulihudin, S.Pd.I., mengatakan berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya organisasi agar keberadaannya memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Menurut Hery, Karang Taruna secara rutin menggelar Bulan Bhakti Karang Taruna sebagai salah satu agenda tahunan. Selain kegiatan sosial, momentum tersebut dimanfaatkan untuk menyampaikan berbagai kebijakan dan regulasi terbaru kepada jajaran Karang Taruna di daerah.
”Yang paling penting dari kegiatan ini adalah substansinya. Saya sebagai Ketua Karang Taruna Kota Tasikmalaya bisa menyampaikan terkait regulasi baru yang hari ini diberlakukan,” ujar Hery.
Ia menyebut salah satu regulasi yang perlu dipahami seluruh jajaran Karang Taruna adalah Permensos Nomor 9 Tahun 2025. Menurutnya, regulasi tersebut membawa sejumlah perubahan dalam tata kelola organisasi, termasuk ketentuan mengenai usia dan mekanisme penyelenggaraan temu karya di berbagai tingkatan.
Hery mengatakan sosialisasi dilakukan agar seluruh tingkatan Karang Taruna memiliki pemahaman yang sama dan dapat menerapkan ketentuan baru tersebut.
Di sisi lain, Karang Taruna Kota Tasikmalaya juga memprioritaskan sejumlah persoalan sosial yang dinilai membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda.
Salah satunya adalah persoalan HIV/AIDS. Hery menyebut isu tersebut perlu mendapatkan perhatian serius, terutama dalam upaya edukasi dan pencegahan di kalangan generasi muda.
”Bagaimana pola hidup anak muda hari ini supaya terbebas dan jauh dari risiko HIV menjadi salah satu perhatian kami,” katanya.
Selain HIV/AIDS, persoalan sampah menjadi perhatian berikutnya. Karang Taruna telah membentuk kader di tingkat kelurahan untuk membantu mengedukasi masyarakat mengenai pemilahan dan penanganan sampah.
Menurut Hery, para kader tersebut telah mendapatkan pembekalan serta perlengkapan pendukung. Namun, ia menilai penanganan persoalan sampah membutuhkan kolaborasi yang kuat antara Karang Taruna dan pemerintah.
”Kalau kita sendiri tentu cukup berat. Pemerintah juga harus bisa berkolaborasi dengan kami. Kami siap membantu pemerintah dalam rangka menanggulangi sampah di Kota Tasikmalaya,” ujarnya.
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah keberadaan geng motor. Hery mengatakan Karang Taruna memilih pendekatan edukatif dan preventif dengan tetap menghormati kewenangan aparat penegak hukum.
Ia mengusulkan adanya kolaborasi dengan kepolisian untuk melakukan pembinaan terhadap generasi muda yang berpotensi terlibat dalam aktivitas geng motor.
Salah satu langkah yang didorong adalah pendataan pemuda yang menggunakan knalpot tidak sesuai spesifikasi untuk kemudian dilakukan pembinaan bersama keluarga dan aparat kewilayahan.
”Kami ingin membantu aparat penegak hukum melalui pendekatan preventif yang bisa dilakukan oleh Karang Taruna,” katanya.
Selain itu, Karang Taruna juga terlibat dalam upaya membantu pemuda yang terlanjur menggunakan narkoba maupun obat-obatan terlarang. Hery menyebut saat ini terdapat sejumlah kasus yang sedang mendapatkan pendampingan.
Ia menceritakan salah satu kasus seorang pemuda yang secara sadar ingin terbebas dari ketergantungan obat-obatan. Setelah berkonsultasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan mendapatkan penanganan medis, pemuda tersebut menjalani perawatan jalan secara rutin.
”Alhamdulillah, hampir empat bulan sekarang sudah produktif lagi, sudah bekerja lagi dan terbebas dari kecanduan obat-obatan tertentu,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Chandra Negara, menilai komunikasi antara pemerintah dan organisasi kepemudaan menjadi hal penting agar program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
Menurut Diky, banyaknya persoalan di Kota Tasikmalaya membutuhkan skala prioritas sehingga energi generasi muda dapat diarahkan pada persoalan yang paling mendesak.
”Komunikasi dengan pemuda sangat dibutuhkan supaya setiap yang dikerjakan sesuai dengan kondisi terakhir Kota Tasikmalaya. Jangan sampai kita fokus pada masalah yang bukan menjadi prioritas,” kata Diky.
Ia menambahkan, persoalan kemiskinan dan pertumbuhan penduduk dapat memberikan dampak terhadap sektor lain, terutama kesehatan dan pendidikan. Karena itu, sinergi antara pemerintah dan generasi muda dinilai penting untuk mendukung program pembangunan daerah.
Diky juga berharap Karang Taruna semakin dewasa dalam menyikapi berbagai persoalan sosial serta mampu melahirkan gagasan yang kreatif, inovatif dan positif.
”Yang dibutuhkan Tasikmalaya adalah tangan-tangan kreatif, inovatif dan positif untuk membangun Tasik semakin asik,” ujarnya.(***)
- Penulis: Galih Sugih Lugina
- Editor: Galih
