Medinas.id — Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya menggelar sidang senat terbuka wisuda ke-15 periode April 2026 dengan melantik sebanyak 244 mahasiswa sebagai lulusan baru.
Rektor UMTAS, Neni Nuraeni, menyampaikan pesan singkat namun bermakna kepada para wisudawan. Ia menekankan pentingnya peran lulusan untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Di mana pun berada, lulusan harus mampu berkontribusi. Tidak hanya dari sisi keilmuan, tetapi juga disertai akhlakul karimah,” ujarnya.
Ia menegaskan komitmen kampus dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki integritas dan karakter yang baik. Menurutnya, ilmu yang diperoleh selama masa studi harus mampu memberikan dampak positif di lingkungan sekitar.
“Tantangan di lapangan tidak selalu mudah. Karena itu, ilmu yang dimiliki harus mampu menjawab kebutuhan dan menghadirkan solusi,” tambahnya.
Dalam proses pendidikan, UMTAS juga menjalin kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Kerja sama tersebut diwujudkan melalui program magang yang disesuaikan dengan bidang keilmuan mahasiswa.
Mahasiswa kesehatan menjalani praktik di rumah sakit atau fasilitas layanan kesehatan, mahasiswa teknik ditempatkan di sektor industri, sementara mahasiswa keguruan melaksanakan praktik mengajar di sekolah.
“Program magang ini terus kami jalankan dan kembangkan meski kebijakan seperti MBKM mengalami penyesuaian. Yang terpenting, mahasiswa tetap mendapatkan pengalaman langsung di dunia kerja,” jelasnya.
Selain itu, UMTAS memperluas jejaring internasional melalui kerja sama dengan Universiti Zainal Abidin di Malaysia.
Kolaborasi ini diwujudkan melalui program pertukaran mahasiswa dan magang internasional. Mahasiswa dari UniSZA belajar di UMTAS selama kurang lebih enam bulan, begitu pula sebaliknya, mahasiswa UMTAS mendapat kesempatan menimba ilmu di Malaysia.
Terdapat pula program student mobility yang menggabungkan pembelajaran daring dan luring. Mahasiswa internasional yang datang ke Tasikmalaya tidak hanya mengikuti perkuliahan, tetapi juga dikenalkan pada budaya lokal serta potensi daerah.
“Kami menghadirkan tidak hanya pembelajaran akademik, tetapi juga pengalaman budaya. Mahasiswa dari kedua negara dapat saling bertukar wawasan dan nilai,” ungkap Neni.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diajak mengunjungi sentra kerajinan mendong di Manonjaya hingga Kampung Naga untuk mengenal potensi lokal sekaligus melihat penerapan teknologi dalam pengembangan usaha masyarakat.
Melalui berbagai program ini, UMTAS berharap para lulusannya mampu menjadi pribadi yang adaptif, berdaya saing global, serta tetap menjunjung tinggi nilai moral dan budaya lokal. (gal)





