Pembinaan Usia Dini Jadi Kunci, Liga Jabar Istimewa Libatkan Puluhan Klub di Kota Tasikmalaya

Medinas.id — Ketua PSSI Kota Tasikmalaya, H. Wahid, S.Pd, menegaskan bahwa pembinaan sepak bola usia dini menjadi fondasi penting dalam gelaran Liga Jabar Istimewa yang kini tengah berlangsung di tingkat kota dan kabupaten.

Ia menyebutkan, kompetisi tersebut mempertandingkan empat kategori usia, yakni U-10, U-12, U-14, dan U-19. Dari sisi partisipasi, U-10 diikuti 13 klub, U-12 sebanyak 24 klub, U-14 diikuti 12 klub, serta U-19 sebanyak 6 klub.

“Untuk jadwal pertandingan akhir pekan ini, difokuskan pada kelompok usia 10 dan 12 tahun dengan penggunaan lapangan kecil. Sedangkan kelompok usia 14 dan 19 tahun akan bermain di lapangan standar,” ujar H. Wahid, saat di wawancarai awak media di sela – sela acara. Sabtu (02/05/2026)

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa di tingkat Kota Tasikmalaya, lima tim terbaik dari kategori U-10 dan U-12 akan melaju ke babak regional Priangan Timur.

“Artinya, bukan hanya juara pertama yang lolos, tetapi peringkat satu hingga lima akan mewakili ke tingkat regional. Dari sana, enam tim terbaik akan kembali disaring untuk tampil di tingkat Provinsi Jawa Barat,” terangnya.

Menurutnya, proses pembinaan sepak bola tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan proses panjang sejak usia dini dengan latihan yang berkelanjutan.

“Sepak bola bukan olahraga instan. Semua cabang olahraga membutuhkan pembinaan sejak dini. Setidaknya anak-anak memiliki aktivitas positif yang dapat menjauhkan mereka dari pengaruh pergaulan yang kurang baik,” katanya.

Ia juga menyoroti peran olahraga dalam membentuk pola hidup sehat sekaligus membuka peluang prestasi bagi generasi muda.

“Selain menyehatkan dan berpotensi melahirkan prestasi, olahraga jelas lebih bermanfaat dibandingkan aktivitas yang tidak produktif. Jika sejak kecil sudah tertarik pada sepak bola, harapannya mereka bisa terus berkembang,” tambahnya.

Di sisi lain, H. Wahid mengakui masih adanya keterbatasan fasilitas olahraga di Kota Tasikmalaya.

“Secara jujur, sarana olahraga kita masih perlu pembenahan. Memang ada rencana dari pemerintah, termasuk yang disampaikan oleh Dedi Mulyadi terkait revitalisasi. Namun, hingga tahun 2026 ini, anggaran untuk itu belum tersedia,” ungkapnya.

Ia pun berharap rencana pengembangan infrastruktur olahraga, termasuk kompetisi sepak bola antar kecamatan, dapat benar-benar diwujudkan.

“Kita sering mendengar rencana pembangunan sepak bola antar kecamatan. Semoga tidak berhenti sebagai wacana, tetapi benar-benar terealisasi,” pungkasnya. (gal)