Medinas.id — Cabang olahraga bola voli Kota Tasikmalaya menorehkan catatan penting usai memastikan tiket ke Babak Kualifikasi (BK) menuju PORPROV Jawa Barat XV yang akan digelar November mendatang.
Namun, capaian tersebut kini dibayangi ketidakpastian setelah beredar informasi bahwa tim voli Kota Tasikmalaya terancam batal diberangkatkan oleh pemerintah. Di lapang Padasuka Kota Tasikmalaya saat komprensi pers Sabtu (02/05/2026)
Ketua PBVSI Kota Tasikmalaya, H. Oman Rohman, menyebut keberhasilan lolos BK sebagai pencapaian bersejarah bagi dunia voli di Kota Tasikmalaya. Menurutnya, selama sekitar 25 tahun terakhir, termasuk sejak kota ini berdiri, cabang olahraga voli belum pernah menembus babak tersebut.
“Ini menjadi sejarah bagi kami. Selama ini, sejak Kota Tasikmalaya berdiri, voli belum pernah lolos BK. Sekarang saat berhasil, justru muncul kabar tidak akan diberangkatkan,” ujarnya.
Meski dihantui ketidakjelasan, Oman memastikan pembinaan atlet tetap berjalan maksimal. Tim putri yang finis di posisi ketiga saat BK serta tim putra yang lolos lewat akumulasi poin masih menjalani program latihan intensif.
Ia menjelaskan, latihan digelar enam kali dalam sepekan dengan pendampingan pelatih nasional dan daerah. Bahkan, tim putri saat ini sudah memasuki masa karantina untuk meningkatkan fokus persiapan.
“Kami tetap konsisten melakukan pembinaan. Semua program latihan terus berjalan,” katanya.
Oman juga mempertanyakan jika alasan keterbatasan anggaran hanya berdampak pada cabang olahraga tertentu. Menurutnya, kebijakan tersebut harus diterapkan secara adil.
“Kalau memang terkendala anggaran, kenapa hanya voli yang terdampak? Kenapa tidak semua cabang olahraga? Kami berharap ada perlakuan yang adil,” tegasnya.
Ia menambahkan, batas akhir pendaftaran keikutsertaan PORPROV jatuh pada 30 Mei. Jika hingga tenggat waktu belum ada kepastian dari KONI, maka tim dipastikan gagal tampil dan berpotensi terkena sanksi.
“Kalau tidak didaftarkan, otomatis kami tidak bisa ikut. Bahkan bisa ada sanksi dari PBVSI pusat yang berdampak pada keikutsertaan di BK berikutnya,” jelasnya.
Saat ini, masing-masing tim dihuni 18 atlet putra dan 18 atlet putri yang telah menjalani pembinaan serius. Oman menilai, pembatalan keberangkatan akan membuat seluruh proses persiapan yang sudah dilakukan menjadi sia-sia.
“Kami sudah berjuang maksimal membina atlet. Kalau akhirnya batal berangkat, tentu sangat disayangkan,” ucapnya.
Kekecewaan juga dirasakan para atlet. Dua pemain voli putri, Mutia dan Sarah, mengaku sedih dengan situasi tersebut, namun tetap berharap pemerintah memberikan dukungan agar mereka bisa tampil di ajang bergengsi itu.
“Kami kecewa, tapi masih berharap pemerintah bisa membantu supaya kami tetap berangkat,” ungkap keduanya.
Menanggapi persoalan itu, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, mengatakan pengelolaan teknis sepenuhnya telah diserahkan kepada KONI dan dinas terkait.
“Dari unsur pimpinan, kami mempercayakan kepada KONI dan Disporabudpar untuk mengatur strategi serta teknis pelaksanaannya,” katanya.
Ia mengakui, kondisi efisiensi anggaran tengah dirasakan hampir seluruh daerah di Indonesia. Meski demikian, ia menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi agar semua cabang olahraga tetap mendapat solusi terbaik.
“Hampir semua daerah terdampak efisiensi anggaran. Kuncinya komunikasi dan strategi agar tidak ada pihak yang dirugikan,” jelasnya.
Diky juga membuka peluang adanya solusi alternatif, termasuk pembiayaan mandiri yang dapat dibahas bersama antara KONI, Disporabudpar, dan pihak terkait.
“Kalau ada opsi pembiayaan mandiri, itu bisa didiskusikan bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, perlu kolaborasi semua pihak untuk membangun Tasikmalaya,” tandasnya. (gal)











