Siloka Barista Championship Dorong Pengembangan Potensi Barista dan Ekosistem Kopi Tasikmalaya
- account_circle Galih Sugih Lugina
- calendar_month Senin, 28 Sep 2026
- visibility 28
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Medinas.id — Pemerintah Kota Tasikmalaya menyambut positif pelaksanaan Siloka Barista Championship 2026 yang dinilai dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi Kota Tasikmalaya sekaligus mendorong pengembangan sumber daya manusia di bidang kopi.
Kepala Dinas Porabudpar Kota Tasikmalaya, Dr. Deddy Mulyana, S.STP., M.Si. mengatakan kegiatan tersebut tidak semata-mata berorientasi pada kompetisi dan mencari pemenang. Lebih dari itu, ajang tersebut diharapkan mampu mempertemukan para pelaku dan orang-orang yang memiliki keahlian di bidang kopi.
“Yang pertama, kegiatan ini bisa memperkenalkan Kota Tasikmalaya ke luar daerah. Kedua, kita bisa menggali potensi, baik dari lokal maupun luar daerah, khususnya barista-barista yang ada di Tasikmalaya untuk dikembangkan dan dikompetisikan,” ujar Deddy.
Menurutnya, pertemuan para barista dan pelaku industri kopi dapat menjadi sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman. Hal itu dinilai penting karena perkembangan coffee shop di Kota Tasikmalaya terus membuka peluang bagi munculnya tenaga kerja baru.
Deddy menyebut, Kota Tasikmalaya saat ini dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki banyak coffee shop dan usaha restoran. Karena itu, pengembangan kompetensi barista diharapkan dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan industri tersebut.
“Yang paling utama bukan siapa yang menjadi pemenang, tetapi bagaimana kita bisa mengumpulkan orang-orang yang ahli di bidang kopi untuk berbagi keilmuan. Ini juga menjadi salah satu upaya menciptakan potensi tenaga kerja baru yang nantinya bisa ditempatkan di coffee shop,” katanya.
Deddy berharap Siloka Barista Championship dapat digelar secara berkelanjutan dan masuk dalam kalender event tahunan Kota Tasikmalaya. Dengan demikian, kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu agenda yang menarik masyarakat dari luar daerah untuk datang ke Tasikmalaya.
“Ini sudah tahun kedua. Mudah-mudahan ke depan kita bisa terus bekerja sama dengan Siloka sehingga menjadi kalender event tahunan yang membuat orang terjadwal datang ke Kota Tasikmalaya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan industri kopi juga perlu melibatkan berbagai pihak, mulai dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), pelaku usaha coffee shop dan restoran, hingga Badan Pendapatan Daerah (Bapenda).
Kolaborasi tersebut, kata dia, diperlukan agar pertumbuhan usaha coffee shop turut memberikan kontribusi terhadap perekonomian dan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Tasikmalaya melalui sektor pajak makanan dan minuman.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Bisnis Siloka Group, Roni Fitra, mengatakan Siloka Barista Championship diharapkan tidak berhenti sebagai ajang kompetisi. Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi para barista untuk menuangkan kreativitas dalam mengolah dan menyajikan kopi.
“Kami berharap Siloka Barista Championship ini menjadi wadah, bukan hanya sebatas kompetisi, tetapi juga tempat teman-teman barista menuangkan kreativitasnya, terutama dalam meracik kopi yang berasal dari Kota Tasikmalaya dan sekitarnya,” kata Roni.
Ia menilai wilayah Tasikmalaya memiliki potensi kopi yang cukup besar. Potensi tersebut, menurutnya, akan semakin berkembang apabila didukung barista yang memiliki kompetensi dan kreativitas.
“Kami melihat ini bisa menjadi kolaborasi yang baik untuk meningkatkan ekosistem kopi di Tasikmalaya pada khususnya dan Indonesia pada umumnya,” ujarnya.
Roni menjelaskan, peserta Siloka Barista Championship 2026 berasal dari sejumlah daerah. Selain Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, peserta juga datang dari Kuningan, Solo atau Surakarta, hingga Yogyakarta.
Menurutnya, keterbukaan peserta menjadi salah satu bagian penting dari konsep kegiatan tersebut. Peserta tidak hanya berasal dari coffee shop, tetapi juga terbuka bagi masyarakat yang memiliki ketertarikan dan kemampuan di bidang kopi.
Roni mengatakan, industri kopi di Tasikmalaya memiliki prospek seiring dengan semakin berkembangnya budaya minum kopi di tengah masyarakat. Aktivitas ngopi, kata dia, kini telah menjadi bagian dari keseharian berbagai kelompok usia.
“Ngopi sekarang bukan lagi sesuatu yang aneh. Ini sudah menjadi bagian dari masyarakat, bahkan sudah menjadi tradisi. Karena itu, tidak mengherankan kalau di Tasikmalaya jumlah coffee shop-nya sudah mencapai lebih dari 400,” katanya.
Di sisi lain, Roni juga mendorong adanya kolaborasi antara Pemerintah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya dalam mengembangkan potensi kopi lokal. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kopi dari wilayah Pagar Ageng, Kabupaten Tasikmalaya.
Ia mengatakan, pihaknya telah menjalin kerja sama dengan Kopi Bundar, produk kopi yang berasal dari kawasan tersebut. Menurutnya, wilayah Kabupaten Tasikmalaya memiliki sejumlah daerah penghasil kopi yang potensial untuk dikembangkan dan dipasarkan melalui jaringan coffee shop.
“Kami berharap ada kolaborasi antara Kabupaten dan Kota Tasikmalaya. Daerah penghasil kopi banyak berada di Kabupaten Tasikmalaya, sehingga nantinya bagaimana kopi-kopi tersebut bisa kita pasarkan melalui coffee shop yang ada di Kota Tasikmalaya,” ujarnya.
Roni menambahkan, Kopi Bundar yang berasal dari kawasan Pagar Ageng telah mengikuti berbagai ajang dan memiliki pengalaman pasar internasional, termasuk ekspor ke sejumlah negara seperti Jepang.
Ia berharap potensi tersebut dapat terus dikembangkan melalui sinergi antara petani kopi, pelaku usaha, barista, coffee shop, dan pemerintah daerah sehingga terbentuk ekosistem kopi yang semakin kuat di Tasikmalaya.(***)
- Penulis: Galih Sugih Lugina
- Editor: Galih
