Viral! Ibu Muda Marah di SPBU Cipatujah Tasikmalaya Gegara Kehabisan BBM, Polisi Turun Tangan
- account_circle Rian Sutisna
- calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
- visibility 24
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Medinas.id — Video seorang ibu muda yang marah-marah di sebuah SPBU di Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, viral di media sosial. Aksi tersebut dipicu lantaran dirinya tidak mendapatkan bahan bakar setelah beberapa kali mengantri.
Peristiwa itu terjadi di SPBU Desa Cipatujah, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Dalam video yang beredar, perempuan tersebut tampak meluapkan kekesalannya karena kehabisan bahan bakar, sementara dirinya membutuhkan BBM untuk mengantar anaknya berobat ke Kota Tasikmalaya.
Dalam rekaman tersebut, ibu muda itu mengaku sudah tiga kali mengantre namun tetap tidak mendapatkan bahan bakar.
”Geus tilu kali antri aing ieu rek indit ka Tasik mawa budak gering. Yeuh mobil urang geus tilu kali antri panjang teu kabagean bensin. Antri panjang tadi ieu jalikeun masih antri. Aing tilu kali lain ukur sakali,” ucapnya dalam video.
Kapolsek Cipatujah Kompol Supian membenarkan adanya peristiwa tersebut. Menurutnya, kejadian bermula ketika ibu tersebut datang ke SPBU untuk membeli bahan bakar dan sempat masuk dalam antrian.
Namun, perempuan itu kemudian keluar dari antrean. Beberapa waktu kemudian, ia kembali ke SPBU. Saat tiba, stok bahan bakar yang tersedia sudah habis.
”Dia sempat ikut antre, namun kembali keluar antrean. Beberapa waktu kemudian datang lagi ke SPBU, namun stok sudah habis,” ujar Kompol Supian, Selasa (11/08/2026).
Pasca-video tersebut viral, pihak kepolisian kemudian turun tangan untuk melakukan mediasi antara ibu tersebut dengan pihak SPBU.
Hasil mediasi, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan dan telah saling memaafkan.
”Kami sudah memediasi kedua belah pihak. Pihak SPBU dan ibu yang bersangkutan sudah saling memaafkan,” kata Supian.
Supian juga menjelaskan kondisi antrean di SPBU saat kejadian. Menurutnya, selain kendaraan, terdapat sejumlah jeriken yang ikut mengantri untuk mendapatkan BBM.
Jeriken tersebut mayoritas milik nelayan yang membutuhkan bahan bakar untuk aktivitas melaut. Hal itu terjadi karena hingga saat ini di kawasan Cipatujah belum tersedia SPBU khusus nelayan.
”Jeriken ini milik para nelayan yang mengisi bahan bakar. Nelayan belum memiliki SPBU khusus sehingga memanfaatkan SPBU satu-satunya di kawasan ini untuk kebutuhan bahan bakar,” jelasnya.
Ia memastikan keberadaan jeriken tersebut bukan bagian dari praktik penimbunan BBM. Selain milik nelayan, sebagian jeriken digunakan oleh pelaku usaha kecil yang menjual bensin secara eceran di wilayah yang jauh dari SPBU.
Menurut Supian, ada pula pembeli yang berasal dari wilayah pelosok Cipatujah hingga Kecamatan Bojonggambir. Mereka membeli BBM untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah yang belum memiliki SPBU.
”Mayoritas itu jeriken nelayan. Ada juga yang milik penjual eceran dari pelosok Cipatujah, bahkan ada dari Bojonggambir yang membeli untuk pasokan bensin di daerah yang tidak memiliki SPBU. Jadi, kalau ada narasi penimbunan, dipastikan tidak benar,” pungkas Supian.(Gal)
- Penulis: Rian Sutisna
