Media Nasional – medinas.id – Delapan calon Ketua Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) memaparkan visi dan gagasan dalam forum penyampaian program menjelang pemilihan ketua yang akan digelar pada 22 November 2025. Para kandidat tampil sesuai urutan nomor yang telah ditetapkan melalui pengundian sebelumnya.
Setiap calon mendapat waktu sepuluh menit untuk menyampaikan gagasan, kemudian memilih satu dari sepuluh pertanyaan yang telah disiapkan panitia. “Kami ingin melihat sejauh mana kesiapan kandidat dalam merespons isu kesenian secara cepat dan tepat,” kata salah satu panitia seleksi.
Ketua DKKT periode 2020–2025, Bode Riswandi, menyampaikan bahwa mekanisme open call kembali dibuka agar proses pencalonan dapat diikuti oleh siapa pun, baik melalui rekomendasi maupun secara pribadi. “Open call ini untuk memastikan semua pelaku seni punya kesempatan yang sama,” ujarnya.
Ia mengatakan langkah tersebut dilakukan agar proses regenerasi kepemimpinan tidak hanya bertumpu pada perwakilan rumpun seni tertentu. “Jika hanya mengandalkan perwakilan rumpun, ruang bagi calon lainnya menjadi sempit. Dengan open call, publik bisa melihat siapa saja yang benar-benar siap memimpin,” katanya.
Bode menambahkan bahwa hingga kini arah dukungan pengurus masih cair. “Empat kandidat berasal dari internal dan empat dari eksternal. Semuanya memiliki hak yang sama,” ujarnya. Ia menegaskan para pengurus diminta memilih tanpa tekanan. “Saya instruksikan agar memilih sesuai hati nurani, jangan melihat apakah kandidat itu bagian dari pengurus lama atau bukan.”
Panitia sebelumnya telah menjaring delapan figur yang dinilai memiliki kepedulian terhadap perkembangan seni dan budaya di Kota Tasikmalaya. Salah satu panitia menyebut proses seleksi berlangsung objektif. “Kami melihat rekam jejak dan komitmen mereka terhadap dunia seni. Delapan nama ini adalah yang paling siap,” katanya.
Bode menilai keragaman gagasan para calon merupakan modal penting bagi DKKT ke depan. “Mereka punya ide-ide berbeda. Kalau bisa dipadukan, ini akan membawa DKKT lebih maju,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pekerjaan rumah yang perlu diteruskan, termasuk pemanfaatan fasilitas di belakang Gedung Kesenian. DED untuk pengembangan kawasan tersebut telah disusun pada 2023. “DED itu bukan proses mudah. Alhamdulillah pengurus sebelumnya bisa menyelesaikannya,” katanya.
Menurutnya, lahan yang semula merupakan Ruang Terbuka Hijau telah dirancang menjadi area pertunjukan terbuka. “Tinggal pengajuan anggarannya ke pusat atau provinsi supaya pembangunan bisa berjalan,” kata Bode. (Galih)











